Pekanbaru – Menjelang momen liburan sekolah, industri pariwisata nasional mulai dihantui ancaman perlambatan perjalanan wisatawan domestik. Tingginya harga tiket pesawat serta melemahnya daya beli masyarakat disebut menjadi faktor utama yang menekan minat bepergian dalam negeri.
Padahal, wisatawan nusantara selama ini menjadi tulang punggung utama pergerakan sektor pariwisata Indonesia. Ketika kemampuan belanja masyarakat menurun, dampaknya langsung terasa terhadap industri perjalanan dan agen wisata.
“Kalau kita bicara pariwisata di Indonesia, sebenarnya yang paling penting itu kontribusi perjalanan wisatawan nusantara. Namun yang ada sekarang tiket pesawat rute domestik mahal sekali,” ujar Ketua DPD Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Riau, Harpina Diansari, Rabu (13/5/2026).
Ia menegaskan, untuk menjaga pertumbuhan sektor pariwisata, daya beli masyarakat harus tetap kuat. Jika kondisi ekonomi masyarakat melemah, maka keinginan untuk berwisata otomatis ikut tertahan.
Ia juga mengungkapkan bahwa permintaan perjalanan melalui agen travel mulai mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir.
Menurut Harpina, meski masih ada permintaan perjalanan, angkanya sudah tidak sebesar sebelumnya. “Permintaan masih ada, meskipun ada penurunan,” kata CEO Aras Hijrah Holidays itu.
Lonjakan harga tiket pesawat disebut menjadi keluhan utama masyarakat. Harpina mencontohkan, tiket penerbangan pulang-pergi dari Pekanbaru ke Yogyakarta kini mencapai Rp4,5 juta, padahal sebelumnya hanya berkisar Rp2,7 juta hingga Rp3 juta.
Hal serupa juga terjadi pada rute Pekanbaru–Jakarta. Jika sebelumnya tiket PP berada di angka Rp 2,5 juta – 3 juta, kini harganya melonjak hingga sekitar Rp4 juta PP. Sementara penerbangan Pekanbaru–Batam yang dulu berkisar Rp1,4 juta PP kini mendekati Rp2 juta dari Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru.
Kondisi ini tidak hanya berdampak pada wisatawan, tetapi juga perjalanan dinas berbagai instansi dan perusahaan.
“Orang dinas-dinas sudah banyak yang mengeluh, saya juga sampaikan memang begitu kondisinya. Mereka juga bisa cek lewat online,” sebut Harpina.
“Bahkan agen dari Bali sampai kontak saya menanyakan apakah ada grup yang berangkat ke sana. Saya jelaskan kondisi sekarang, tiket Pekanbaru ke Bali saja sudah hampir Rp7 juta PP kan. Orang tentu mikirnya mending sekalian ke Malaysia, uang segitu bisa untuk tiket beberapa orang ke kuala lumpur PP. Jadi kita ya ada permintaan alhamdulillah, kalau sepi ya mau gimana lagi,” sambungnya.
Ia memperkirakan penurunan permintaan perjalanan saat ini berada di kisaran 20 hingga 25 persen. Penurunan tersebut dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari naiknya avtur minyak dunia yang menyebabkan naiknya harga tiket pesawat, kondisi ekonomi, kurs dollar yang tinggi, kenaikan harga BBM, situasi geopolitik, hingga perubahan perilaku wisatawan.
Meski begitu, Harpina menilai sebagian besar masyarakat sebenarnya tidak kehilangan minat untuk bepergian. Banyak calon wisatawan hanya memilih menunda perjalanan atau mengalihkan anggaran liburan untuk kebutuhan lain yang dianggap lebih penting.
Wisatawan Mulai Selektif Pilih Destinasi
Selain itu, tren pergeseran destinasi wisata juga mulai terlihat. Wisatawan kini lebih selektif memilih tujuan perjalanan yang dianggap lebih hemat, aman, dan nyaman secara finansial.
Beberapa negara tetangga seperti Malaysia bahkan masih menjadi pilihan favorit wisatawan asal Riau. Biaya perjalanan luar negeri yang dinilai lebih kompetitif membuat sebagian masyarakat mulai membandingkan harga wisata domestik dengan destinasi internasional.
Fenomena ini menunjukkan bahwa minat masyarakat untuk bepergian sebenarnya masih tinggi. Namun, faktor biaya menjadi pertimbangan utama sebelum memutuskan berlibur, terutama di tengah tekanan ekonomi saat ini.
Di tengah tantangan tersebut, pelaku industri perjalanan terus berupaya menjaga kinerja usaha sekaligus beradaptasi dengan perubahan pola perjalanan masyarakat agar perlambatan industri tidak semakin dalam. (Ary)







